Pernah.
Selalu.
Setiap hari.
Setiap saat.
Padamu.
Kakak perempuan ku.
Yang sangat sempurna, di mataku.
Sebagai seorang wanita, perempuan, dan juga gadis remaja.
Kau selalu menjadi seseorang yang sempurna.
Kau selalu mendapatkannya dengan mudah.
Atau aku tak tahu betapa kerasnya kau berusaha untuk mendapatkannya.
Entah ini perasaan IRI? atau KAGUM?
Tetapi aku menyukaimu.
Sangat.
Tapi terkadang aku membencimu, dengan sikapmu yang cuek.
Yang tidak perlu peduli dengan orang lain.
Kadang aku membencimu yang merasa aku selalu nomor dua, di antara teman-teman mu.
Jujur aku anak-anak, kurang dewasa, bahkan belum berpikir dewasa, menyebalkan memang.
Tahukah kau bahwa aku pernah berpikir kau egois (tentunya dengan permasalahan yang sepele).
Aku pernah berpikir kau Sangat HEBAT.
Kau jarang ku lihat berSEDIH.
Tidak merengek dalam hati ingin di peluk, tentunya tidak seperti aku ini.
Tahukah kau kakak perempuan ku.
Aku.
Dalam hati merengek sangat ingin memelukmu dengan lembut, dengan sedikit kasih sayang mu untuk si bungsu ini.
Tetapi aku takut untuk mengatakannya kepadamu.
Kenapa?
Karena aku tidak mengenal sifat mu dengan baik.
Sama hal-nya dengan ku yang tidak mengerti dengan sifatku ini.
Aku takut kau akan mengatakan padaku " Coba jangan manja Reni, kamu kayak anak kecil aja ", dengan nada suara mu yang menambah niat ku untuk tidak pernah mengulanginya.
Dan aku takut pada kakak ku sendiri.
Ironis sekali.
Sampai detik ini pun aku tak berani meminta itu.
Aku bahkan tidak berani meminta sesuatu kepada orang lain.
Tidak berani menuntut apa-apa.
Padahal aku sangat ingin meminta, menegaskannya.
Tetapi apa gunanya meminta, itu tidak akan memberi ku hak penuh atas apa yang ku minta
Tuesday, August 19, 2014
Friday, August 15, 2014
Terima Kasih Mama
Aku tahu kata-kata dapat membunuh seseorang.
Setiap kali aku mengabarkan kegagalan ku pada setiap ujian hidup yang aku tempuh pada mu.
Aku seperti telah membunuh satu nyawa terhadap mu ibu.
Dan hingga sampai sekarang.
Entah berapa nyawa mu yang telah aku bunuh dengan kata-kata "Kegagalan" ini.
Terlukis jelas diwajah mu tampak keletihan ketika kau mendengar kabar di setiap kegagalan ku.
Andai ibu tahu, di setiap aku membunuh nyawa mu dengan kabar kegagalan ku.
Aku pun telah membunuh nyawa ku di saat itu juga.
Pilu rasanya mengetahui aku selalu memberi mu kabar yang selalu membunuh nyawa mu.
Pilu rasanya mengetahui mendengar mu berdo'a kepada-NYA agar kegagalan ku berbuah sukses nantinya.
Pilu rasanya mengetahui kau selalu menunggu hari bahagia yang terus tertunda.
Pilu rasanya melihat mata mu yang selalu menatap iri pada sebuah keluarga bahagia yang menghadiri "Wisuda Anaknya".
Bersabarlah Bunda.
Teruslah engkau berada di samping ku.
Menguatkan ku, meskipun engkau telah rapuh oleh waktu.
Menunggu hari itu datang.
Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menjemputnya.
Demi melihat wajah dan senyum bangga yang dulu pernah ku dapatkan dari mu bunda :D
Kata-kata diatas ku rangkai menggambarkan ke dua kakak ku yang sedang menjalani masa sulit dalam study-nya, membuat seorang wanita paruh baya menunggu datangnya hari yang membahagiakan itu.
Aku merangkainya secara tidak sengaja dan ku kirim kata-kata itu lewat sms dan aku telah membuat wanita paruh baya kembali menangis dan itu membuat ku merasa tidak enak dan bangga. Kenapa tidak, wanita paruh baya tersebut berterima kasih karena telah menguatkan beliau.
Terima Kasih Mama, karena masih menunggu kami untuk menjemput hari Bahagia itu :D
Setiap kali aku mengabarkan kegagalan ku pada setiap ujian hidup yang aku tempuh pada mu.
Aku seperti telah membunuh satu nyawa terhadap mu ibu.
Dan hingga sampai sekarang.
Entah berapa nyawa mu yang telah aku bunuh dengan kata-kata "Kegagalan" ini.
Terlukis jelas diwajah mu tampak keletihan ketika kau mendengar kabar di setiap kegagalan ku.
Andai ibu tahu, di setiap aku membunuh nyawa mu dengan kabar kegagalan ku.
Aku pun telah membunuh nyawa ku di saat itu juga.
Pilu rasanya mengetahui aku selalu memberi mu kabar yang selalu membunuh nyawa mu.
Pilu rasanya mengetahui mendengar mu berdo'a kepada-NYA agar kegagalan ku berbuah sukses nantinya.
Pilu rasanya mengetahui kau selalu menunggu hari bahagia yang terus tertunda.
Pilu rasanya melihat mata mu yang selalu menatap iri pada sebuah keluarga bahagia yang menghadiri "Wisuda Anaknya".
Bersabarlah Bunda.
Teruslah engkau berada di samping ku.
Menguatkan ku, meskipun engkau telah rapuh oleh waktu.
Menunggu hari itu datang.
Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menjemputnya.
Demi melihat wajah dan senyum bangga yang dulu pernah ku dapatkan dari mu bunda :D
Kata-kata diatas ku rangkai menggambarkan ke dua kakak ku yang sedang menjalani masa sulit dalam study-nya, membuat seorang wanita paruh baya menunggu datangnya hari yang membahagiakan itu.
Aku merangkainya secara tidak sengaja dan ku kirim kata-kata itu lewat sms dan aku telah membuat wanita paruh baya kembali menangis dan itu membuat ku merasa tidak enak dan bangga. Kenapa tidak, wanita paruh baya tersebut berterima kasih karena telah menguatkan beliau.
Terima Kasih Mama, karena masih menunggu kami untuk menjemput hari Bahagia itu :D
Subscribe to:
Posts (Atom)